(0362)21342
0087890395192
disbudparkabbuleleng@gmail.com
Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata

Kabid Adat dan Cagar Budaya Hadiri Rakor Penyusunan Laporan Periodik Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Admin disbudpar | 27 Agustus 2026 | 117 kali

Kamis, 27 Agustus 2026 – Kepala Bidang Adat dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menghadiri Rapat Koordinasi terkait penyampaian laporan kondisi terkini dan perkembangan keberlangsungan setiap elemen budaya Bali yang telah masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari persiapan penyusunan Laporan Periodik Elemen Budaya Tiga Genre Tari Bali yang rencananya akan disampaikan kepada UNESCO pada tahun 2027. Dalam penyusunan laporan tersebut, Direktorat Diplomasi Kebudayaan mendorong keterlibatan aktif dan kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan, meliputi pemerintah, komunitas masyarakat, perguruan tinggi, serta organisasi non-pemerintah.


Penyusunan laporan secara partisipatif tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi mutakhir setiap elemen warisan budaya takbenda, sekaligus menjadi ruang untuk mengevaluasi rencana aksi pelindungan yang telah dijalankan dan merumuskan bersama langkah-langkah pelindungan yang diperlukan untuk keberlanjutan di masa mendatang.


Dalam kesempatan tersebut, Kabupaten Buleleng turut menyampaikan laporan mengenai kondisi terkini dan perkembangan keberlangsungan Dramatari Wayang Wong Tejakula yang berada di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula.


Wayang Wong Tejakula merupakan salah satu warisan budaya yang hingga saat ini masih hidup, bertahan, dan berkembang di tengah masyarakat Buleleng. Kesenian tersebut termasuk dalam genre Tari Bebali, yang merupakan salah satu dari tiga genre Tari Bali dan menjadi bagian dari sembilan jenis Tari Tradisional Bali yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.


Keberadaan Wayang Wong Tejakula hingga saat ini menunjukkan bahwa Tari Bebali masih memiliki fungsi penting sebagai media ekspresi spiritual, pelestarian nilai budaya, pendidikan karakter, serta penguatan identitas masyarakat Bali. Nilai-nilai luhur seperti ngayah, yaitu pengabdian secara tulus, dan sesari sebagai bentuk penghargaan terhadap karya seni, masih menjadi landasan dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.


Berdasarkan hasil pengamatan dan koordinasi dengan masyarakat pendukung, Wayang Wong Tejakula masih dilaksanakan dan dilestarikan secara berkelanjutan oleh Desa Adat Tejakula bersama para pelaku seni dan masyarakat setempat. Kesenian ini tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai Tari Bebali yang dipentaskan dalam konteks upacara keagamaan sesuai dengan tradisi yang berlaku.


Keberlanjutan Wayang Wong Tejakula juga didukung oleh tingginya partisipasi masyarakat yang dilandasi nilai ngayah. Para penari, penabuh, serta masyarakat pendukung secara aktif terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan pementasan. Hal tersebut menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga eksistensi kesenian tradisional tersebut agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus melaksanakan berbagai upaya pelindungan dan pengembangan Wayang Wong Tejakula. Upaya tersebut antara lain melalui pendataan dan dokumentasi, pembinaan kelompok seni, penguatan regenerasi pelaku budaya, fasilitasi pementasan, serta promosi Wayang Wong Tejakula dalam berbagai kegiatan seni dan festival budaya.


Melalui langkah-langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng berkomitmen untuk terus menjaga keberlanjutan Dramatari Wayang Wong Tejakula sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, spiritual, sosial, dan budaya bagi masyarakat Buleleng.


Keberlangsungan Wayang Wong Tejakula sekaligus menjadi bagian penting dalam menjaga kekayaan budaya Bali agar tetap hidup di tengah masyarakat, diwariskan lintas generasi, serta terus mendapat pengakuan dan apresiasi sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda yang telah diakui dunia.