Pengembangan potensi desa dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Hal tersebut menjadi topik utama dalam Talkshow RRI Singaraja yang diselenggarakan di Desa Tajun, Kabupaten Buleleng, pada Senin (31/8), dengan mengangkat tema “Dari Potensi Desa Hingga Sampah Plastik, Mewujudkan Tajun Sebagai Desa Wisata yang Berkelanjutan.”
Dalam kegiatan tersebut, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Madya selaku Plt. Kabid SDPE bersama Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama turut menghadiri kegiatan sekaligus mengikuti diskusi mengenai potensi dan tantangan pengembangan Desa Tajun sebagai desa wisata.
Perbekel Desa Tajun menyampaikan bahwa Desa Tajun memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, salah satunya potensi perkebunan. Selain itu, potensi adat dan budaya yang dimiliki masyarakat Desa Tajun juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berkesinambungan.
Meski demikian, disampaikan bahwa proses pengembangan Desa Tajun menuju desa wisata masih belum maksimal. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya dan kolaborasi lebih lanjut agar potensi yang dimiliki dapat dikembangkan secara optimal dan menjadikan Desa Tajun sebagai salah satu destinasi wisata yang layak dikunjungi.
Sementara itu, Nyarikan Desa Adat Tajun turut memaparkan potensi Pura Pucak Sinunggal yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata spiritual. Pengembangan tersebut tentunya tetap mengedepankan nilai kesakralan dan aturan adat yang berlaku sehingga aspek pariwisata tidak menghilangkan nilai-nilai budaya dan spiritual yang ada.
Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, saat ini juga telah dilakukan pemilahan sampah dari berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan Pura Pucak Sinunggal. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus mendukung konsep pariwisata berkelanjutan.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Madya yang juga berkesempatan menjadi narasumber menegaskan bahwa budaya dan pariwisata harus berjalan berdampingan. Pengembangan desa wisata, menurutnya, perlu disesuaikan dengan potensi dan karakteristik yang dimiliki masing-masing desa.
“Desa wisata akan berjalan mengikuti potensi yang dimiliki oleh desa, dengan tujuan akhirnya adalah pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan demikian, pengembangan pariwisata diharapkan dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan desa wisata tidak hanya berkaitan dengan pengembangan destinasi dan daya tarik wisata, tetapi juga mencakup keterlibatan masyarakat, pelestarian budaya, serta kepedulian terhadap lingkungan, termasuk dalam pengelolaan sampah plastik.
Talkshow tersebut sekaligus disandingkan dengan program RRI Singaraja “Sudang Lepet Jukut Undis” yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube RRI Singaraja. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan edukasi bagi masyarakat dalam melihat peluang pengembangan potensi desa sekaligus membangun kesadaran bersama terhadap pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan pariwisata di Desa Tajun.