Seminar Kawisesan bertema “Kawisesan Pinaka Tetamian Budaya Bali (Kawisesan sebagai Warisan Budaya Masyarakat Bali)” di Museum Soenda Ketjil, kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Rabu (21/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan UPTD Gedong Kirtya ini menjadi upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan pengetahuan tradisional Bali yang diwariskan melalui naskah lontar. Seminar dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng Drs. I Nyoman Wisandika.
Seminar tersebut mengangkat kawisesan sebagai bagian dari khazanah pengetahuan dan tradisi masyarakat Bali yang memiliki nilai historis, filosofis, dan kultural. Pembahasan ini penting untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap warisan leluhur yang tidak hanya berupa benda budaya, tetapi juga pengetahuan yang tersimpan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam tradisi Bali, kawisesan dapat merujuk pada pengetahuan atau kemampuan tertentu yang berkembang dalam lingkungan budaya masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan tradisi spiritual dan pengetahuan lokal. Pemaknaannya perlu dilihat dalam konteks sejarah, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Bali agar dapat dipahami secara utuh, bukan semata-mata dari sisi praktiknya.
Naskah lontar menjadi salah satu sumber penting untuk menelusuri warisan pengetahuan tersebut. Sebagai media tulis tradisional, lontar merekam beragam aspek kehidupan masyarakat Bali, mulai dari sastra, pengobatan tradisional, ritual, hingga pengetahuan yang berkaitan dengan tradisi dan kearifan lokal. Karena itu, keberadaan koleksi lontar di Gedong Kirtya memiliki peran penting dalam mendukung penelitian, edukasi, dan pelestarian kebudayaan.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum., Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa, M.Pd., M.Fil.H., dan Luh Yesi Candrika, S.S., M.Hum. Para narasumber memberikan ruang bagi pendalaman kajian mengenai kawisesan dan relevansinya dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali.
Sejumlah unsur pemerintah, lembaga keagamaan, akademisi, dan pegiat budaya turut diundang dalam kegiatan ini. Mereka meliputi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Ketua PHDI Kabupaten Buleleng, mahasiswa Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja, mahasiswa STKIP Agama Hindu Singaraja, mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Ketua Klenteng Ling Gwan Kiong, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, serta praktisi budaya.
Pelibatan berbagai kalangan tersebut diharapkan memperluas diskusi sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam mengenali dan memahami warisan pengetahuan tradisional. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada penyimpanan naskah, tetapi juga mencakup penelitian, pengkajian, dokumentasi, dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Sebagai lembaga yang memiliki koleksi naskah lontar, UPTD Gedong Kirtya berperan dalam menjaga sumber pengetahuan tertulis yang menjadi bagian dari sejarah intelektual masyarakat Bali. Melalui kegiatan seminar, koleksi tersebut dapat diperkenalkan sebagai sumber pembelajaran yang relevan bagi dunia pendidikan, penelitian, dan masyarakat luas.
Seminar Kawisesan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian identitas budaya Buleleng dan Bali. Penggalian pengetahuan tradisional secara kontekstual dan bertanggung jawab diharapkan dapat menjaga kesinambungan warisan leluhur serta mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya yang mengedepankan nilai edukasi dan kearifan lokal.