(0362)21342
disbudparkabbuleleng@gmail.com
Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata

Seminar Budaya Serangkaian Buleleng Festival 2026 Ajak Generasi Muda Refleksikan Sejarah, Tantangan, dan Masa Depan Buleleng

Admin disbudpar | 20 Agustus 2026 | 75 kali

Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng melaksanakan Seminar Budaya serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) Tahun 2026, Kamis (20/8/2026), bertempat di Wantilan Sasana Budaya Singaraja. Yang diikuti oleh Majelis Desa, Mahasiswa, Siswa dan Yowana Banjar di Kabupaten Buleleng.

Seminar budaya mengangkat tema “Merefleksi Buleleng: Pengalaman Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Harapan Masa Depan”. Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk menggali kembali perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Buleleng sekaligus membahas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat di tengah perkembangan zaman.


Seminar dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa Buleleng tidak hanya merupakan wilayah di bagian utara Pulau Bali, tetapi memiliki perjalanan sejarah yang panjang, kekayaan budaya yang luar biasa, serta peran penting dalam perkembangan peradaban di Bali. Berbagai peninggalan sejarah, tradisi, kesenian, bahasa, sastra, hingga semangat gotong royong masyarakat merupakan identitas yang patut dibanggakan sekaligus dilestarikan.


Melalui seminar tersebut, peserta diajak menoleh kembali pada perjalanan Buleleng di masa lalu sebagai sumber pembelajaran. Nilai-nilai perjuangan, kebersamaan dan kebijaksanaan para leluhur dinilai penting untuk menjadi pijakan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Di sisi lain, arus globalisasi, perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, serta semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap budaya lokal menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.


Kepala Dinas menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun budayawan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. Budaya Buleleng diharapkan tetap hidup, berkembang dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.


Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum., akademisi dan budayawan, serta Sugi Lanus, akademisi dan budayawan, dengan moderator Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa, S.Pd., M.Pd., M.Fil.H.


Dalam pemaparannya, Prof. Dr. I Made Pageh mengangkat kajian kritis sejarah dengan topik “Catus Patha sebagai Sadpatha dan Margatiga Mandala Prajaniti Singaambara Raja sebagai Titik Nol dan Titik Jarak Nol Kota Singaraja”. Kajian tersebut membahas refleksi historis dan kosmologis mengenai Catuspatha sebagai titik nol tradisional Bali serta kedudukan Tugu Singaambara Raja dalam perspektif sejarah dan kosmologi.


Prof. Pageh juga mengajak peserta melihat kebudayaan melalui perspektif epistemologi Timur yang tidak memandang kebenaran sebagai sesuatu yang tunggal. Sejumlah pertanyaan mengenai makna Ngaben, hakikat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Nirwana/Nirbana, serta prosesi Pradaksina-Prasawiya di Prapatan Agung menjadi bahan diskusi dalam kajian tersebut.


Sementara itu, Sugi Lanus mengangkat materi “Brain Drain di Buleleng: Akar Sejarah, Ancaman Sektoral, dan Solusi Masa Depan”. Dalam paparannya, brain drain dijelaskan sebagai migrasi tenaga kerja terampil, berpendidikan tinggi, akademisi dan profesional dari suatu wilayah ke wilayah lain untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik.


Menurut materi tersebut, fenomena brain drain di Buleleng memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan pergeseran pusat pemerintahan dari Singaraja ke Denpasar pada 1958. Pergeseran tersebut diikuti perpindahan pusat pertumbuhan, investasi dan perkantoran, yang kemudian berdampak terhadap perkembangan Bali Utara serta mendorong sebagian generasi terdidik untuk merantau mencari peluang ekonomi.


Paparan juga menyoroti tantangan pada sektor pendidikan dan kepariwisataan. Buleleng memiliki institusi pendidikan yang mencetak banyak sarjana, namun masih terdapat ketidaksesuaian antara lulusan dengan ketersediaan industri atau lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga ahli. Pada sektor pariwisata, kesenjangan model pengembangan, tingkat upah dan terbatasnya lapangan kerja berkualitas turut disebut sebagai faktor yang mendorong migrasi tenaga kerja muda.


Sebagai solusi, materi Sugi Lanus menawarkan penguatan keterhubungan pendidikan dengan industri, pengembangan pertanian modern berbasis teknologi, pemerataan internet cepat di wilayah pedesaan, pengembangan agrowisata terintegrasi serta perumusan kebijakan daerah yang mampu menciptakan ruang usaha bagi generasi muda Buleleng. Penguatan jejaring masyarakat Buleleng di perantauan juga dipandang dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.


Seminar budaya ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi mampu melahirkan gagasan konstruktif bagi pelestarian dan pengembangan budaya Buleleng. Sebagaimana disampaikan dalam sambutan pembukaan, kegiatan ini diharapkan memperluas wawasan serta memperkuat komitmen bersama untuk menjaga, merawat dan mewariskan budaya Buleleng kepada generasi yang akan datang.


Seminar budaya dengan tema “Merefleksikan Buleleng: Pengalaman Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Harapan Masa Depan” kemudian secara resmi dinyatakan dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.